oleh : Erwin Noviawati
Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Nafasku memburu. Kerongkonganku
tercekat, perih sekali. Mataku tajam menatap lurus. Tulang belulangku seperti
mati rasa. Kopi ditanganku bahkan hampir tumpah.
“ Oh Tuhan” sergahku tak
menyangka.
Seonggok kertas bernama koran
telah membuat duniaku terasa berhenti seketika itu juga. Disudut kanan atas ,
tepat dibawah tulisan edisi koran lokal hari ini, sebuah topik utama terpampang
jelas, bahkan judulnya tercetak dengan huruf kapital. “ DANA JANGGAL, KPK BURU KETUA PEMERIKSA KEUANGAN NEGARA”.
Pemeran utama ( sang ketua badan pemeriksa keuangan negara ) dalam berita itu sangat tak asing bagiku.
Dia hidup denganku. Dia Papa ku. Drs. H. Fatahulun Winuwijaya. Baru 3 tahun
papa ku menjabat sebagai ketua keuangan negara, setelah beliau diangkat dari
jabatan lamanya sebagai staff pengawas khusus keuangan. Mama selalu
mengingatkan Papa bahwa jabatan itu sangat rentan dengan godaan, tak mudah
duduk di posisi seperti itu.
Semuanya kini terbukti, Papa tak
sanggup menahan godaan itu. Pantas, akhir-akhir ini dia jarang terlihat, bahkan
sudah seminggu aku tak mencium keberadaanya dirumah. Sibuk, katanya. Yang
paling aku khawatirkan dari semua itu adalah Mama.
“ Ah, jangan sampai dia tau” aku
melompat cepat dan berlalu menemui Mama.
Aku menemukanya sedang tertidur
pulas diatas ranjang. Sepertinya dia belum keluar kemana-mana pagi ini.
“ Syukurlah”
“ Ah semua listrik harus mati
biar mama nggak nonton tv, ponsel aku sembunyiin aja deh, atau kamar aku kunci
yaa?” kataku pelan.
“ Tidak usah Ren, Mama sudah tau”
Aku bergeming. Diam. Mataku nanar
menatap Mama begitu tegar. Ternyata dia sudah tau berita bangsat itu. Empat
orang laki-laki paruh baya berpakaian rapi, sudah berkunjung ke rumah tadi
subuh mencari Papa dan hal ini yang telah membuat Mama tau kasus tentang Papa
duluan, ketimbang aku.
“ Percuma bersedih, Papa butuh
suport kita, bukan air mata kita” ucap mama.
“ Rendy malu ma”
Mama bangkit “ Dia papa mu, kamu
harus tetap sekolah”.
Mama lalu kembali tertidur. Entah
apa yang saat ini sedang Ia rasakan, aku tak tau. Mama sedang tak mau diganggu
nampaknya.
Pagi ini suasana hatiku tak
karuan. Lunglai. Badanku terasa berat untuk beraktifitas, tapi Mama tetap
menyuruhku sekolah. Harapanku hanya satu, semoga anak satu sekolah tak ada yang
tau berita tentang Papa.
---------
“ Citcuit” ucapku jail.
Dia mlengos. Gadis sombong itu
bernama Dila, Dila Arsitha. Anak kelas sebelas yang sudah kutaksir sejak lama.
Lugu, apa adanya. Natural. Itulah yang ku tangkap tentang dirinya. Walaupun dia
tak terlihat glamour seperti teman-teman wanitaku yang lain, tapi dia sangat
menarik bagiku. Tubuhnya sintal, kulitnya bersih, senyumnya begitu mempesona.
Hampir setiap hari aku selalu mencoba mendekatinya, menggangunya, hasilnya?
Nihil.
Dia begitu misterius bagiku. Tak
pernah bosan aku mengejarnya. Entah mengapa Dila tak pernah sedikitpun
meresponku, toh aku tampan, kaya, bahkan ketua
tim basket yang digandrungi seabrek wanita-wanita paling populer disekolah,
tapi Dila tetap tak bergeming. Mungkin aku tak menarik baginya, tapi bagiku Dila
adalah cinta pertama.
“ Ren, ada Dila” senggol mamat.
“ Kok muka nya kayak gitu yaa Mat”
“ Tetep cantik sih Ren”
“ Hus Dila cuma boleh buat aku
yaa! Ngerti?!!”
Dila nampak berbeda hari itu,
raut wajahnya pucat. Mungkin sakit? Dila hanya berlalu dan menghilang masuk ke
ruang kepala sekolah.
“ Heh Ve, Dila lagi sakit yaa?”
tanyaku pada Vee, teman sekelas Dila.
“ Emm ngga tau, pendiem sih dia
kak”
Dila memang tak pernah terlihat
bergerombol dengan teman-temanya. Sungguh dia sangat berbeda. Sangat misterius
dan itu semakin membuatku bersemangat menelisik jauh tentang dirinya.
Gara-gara Dila aku jadi lupa
kasus ayah yang saat ini sedang panas. Dia penghiburku. Peng-alih duniaku.
Untung tak ada teman yang menyadari kasus ayah, maklum mereka pelajar badung
yang tak mau tau urusan negara. Aku agak senang mengetahui kenyataan tentang
mayoritas anak-anak disini. Walau itu buruk.
-------
Malam ibu kota nampak kejam.
Puluhan gelandangan terlelap dibawah jembatan layang. Aku dan Mama sama-sama
diam. Mama terlihat melamun menatap keluar jendela mobil. Beberapa pertanyaan
dari KPK tadi sore membuat Mama benar-benar tak berdaya, apalagi Papa masih
buron dan entah dimana. KPK masih memburu keberadaanya. Aku hanya bisa diam.
Tenggorokanku terasa ngilu saat ingin melontarkan kata-kata, takut Mama tambah
sedih, tapi aku tak kuat. Pecah juga hening malam ini.
“ Papa masih buron Ma?”
“ Emmh” angguk Mama
“ Mama ditanyaain apa tadi, kok
lama banget”
“ Banyak Ren”
Oh Tuhan, Mama benar-benar
terguncang jiwanya. Tatapanya kosong. Sendu. Sangat memprihatinkan. Mama dan
Papa sudah menempuh suka duka pernikahan selama 19 tahun, Papa sosok yang
begitu romantis dan Mama sangat mencintainya. Tak heran jika kasus Papa membuat
Mama benar-benar hancur.
-------
Waktu terus beranjak tak mengenal
lelah. Kasus Papa juga terus bergulir hingga sebuah kabar datang, Papa sudah
ditemukan dan saat ini sedang dalam penyelidikan di kantor KPK. Aku sedikit
lega. Mama nampak tersenyum pagi itu. Bersama sopir pribadi, Mama diantar ke
gedung KPK dan aku seperti biasa. Sekolah.
“ Aneh, Dila nggak berangkat yaa
dari 2 hari yang lalu Vee?”
“ Dila udah pindah kak”
“ Hah, pindah? Demi apa?”
“ Suer deh kak, tanya aja sama bu
guru”
Urat nadiku terasa mengeras. Tak
percaya. Duniaku kini menghilang. Gadis manis yang sangat aku suka tak dapat
kulihat lagi, bahkan aku belum sempat berbicara berdua denganya. Ah. Aku
benar-benar kecewa. Pindah kemana yaa? Kok pindah? Apa gara-gara aku? Semua
pertanyaan menghantui pikiranku. Tiba – tiba ponselku berdering. Gedung KPK!
Wartawan begitu banyak berkerumun
di depan kantor KPK, karena kehadiranku pasti menimbulkan sorotan para wartawan,
akhirnya aku putuskan untuk lewat pintu samping dan hasilnya aman. Aku selamat
dari mereka. Fiuh ~
“ Kenapa dengan mama Pa?”
tangisku memenuhi ruang Kpk.
“ Maafkan Papa Ren” isak Papa.
“ Ma, mama kenapa ma?” ku
guncang-guncang tubuh Mama.
Mama tampak linglung. Tatapanya
kosong. Oh tidak, Mama mengalami depresi hebat. Entah kabar apa yang diterima
Mama hingga jiwanya begitu terguncang. Dia gila!
“ Dila? Hah, itu Dila?”
Aku melihat Dila. Terkejut,
mengapa Dila bisa ada di gedung KPK? Pikiranku pecah antara Mama dan Dila.
Akhirnya Tante Sisil , adik Mama datang menemui ku. Mama langsung dibawanya
tanpa aba-aba. Papa hanya terdiam lesu melihat istrinya seperti itu.
Pikiranku kembali pada Dila, apa
Dila bernasib sama denganku? Jantungku berdegup kencang, saat Dila ikut masuk
ruangan ini. Diam. Mataku terus berkedip melihat Dila tertunduk ditemani ayah
ibunya. Raut wajah Dila tak kalah terkejut saat melihatku diruang yang sama.
Dia bergidik. Aku dan ayah ibu Dila diminta keluar oleh petugas. Pertanyaan
hebat berkecamuk dibenakku, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada Dila?
“ Maaf buk, kenapa Dila ada
disini ya? Saya teman sekolahnya”
“ Ah, kamu anak pak Fatahulun? ”
tanyanya kaget.
“ Iya Buk ”
“ Oh Gusti” teriaknya malah
semaikin menjadi-jadi.
Rasa penasaranku terus
berkecamuk, ayah dan ibu Dila bungkam. Pergi. Mereka meninggalkanku sendiri
dengan sebuah pertanyaan besar. Apa hubungan Dila dengan semua ini? Ruang
koridor malam itu tampak sangat sepi, maklum waktu sudah hampir pukul 1 malam,
dan Dila belum keluar. Aku berjalan kedepan, turun dan pergi. Ponselku
tiba-tiba berbunyi.
“ Iya Tante, Mama gimana?”
“ Oh Ren, mama kamu depresi
berat, harus dirawat di RSJ ini” tangisnya meledak.
“ Hah, Mama”
“ Ini gara-gara wanita brengsek
itu” caci Tante disebrang sana
“ Wanita brengsek? Siapa Tante? ”
tanyaku polos
“ Si Dila itu, nggak tau diri,
matre, cuih”
Sreeek. Handphone ku terjatuh.
Jantungku terasa berhenti berdetak. Jasadku seperti melayang. Tubuhku terkapar.
Aku menangis. Cinta pertamaku, Dila.
--------
Dingin. Malam itu aku beredar tak
jelas dijalanan ibu kota. Aku tak sanggup mendengar berita apapun tentang Papa
dan Dila. Langkahku terseok. Entah kakiku menuntunku kemana. Hidupku terasa
begitu berat. Semua kebahagiaan sudah musnah. Mama. Papa dan Dila. Aku terdiam
di pinggir jalanan. Tidur.
Pagi ini aku kembali ke kantor
KPK, dan sekuat tenagaku, aku akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Seorang petugas tersenyum simpul padaku.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“ Emm pak, sebenarnya Dila Arsitha
itu apa hubunganya dengan pak Fatahalun ya?”
“ Maaf, anda siapa ya?”
“ Anak beliau”
“ Beritanya padahal sudah
tersebar luas lho”
“ Lalu apa pak?”
“ Papa mu terkena kasus korupsi
dan pencucian uang. Sebagian uang korupsinya ia gunakan untuk menikah dengan
Dila, ia bangunkan Dila rumah mewah di Menteng, mobil mewah dan katanya mau
berangkatkan kedua orang tua Dila haji” rincinya
Kini terjawab sudah pertanyaan
besarku, dan mengapa Dila berbeda akhir-akhir ini lalu pindah sekolah. Karena
Papa!
Aku kembali terhempas. Terkapar.
Aku kacau pagi ini. Dila, wanita yang sangat aku inginkan ternyata istri sirih Papa dan berarti Ia juga menjadi ibu tiriku. Ini gila. Kejamnya Dila. Ah Dila,
sialan kau! Kini aku bergidik, rasa cinta itu musnah rasanya. Aku benci Papa. Mama
kini dirawat di RSJ di Yogyakarta, kota kelahiranya, karena depresi berat dengan keadaan Papa, Mama memang sosok yang tak sanggup menerima beban berat. Papa mendekam 3 tahun
di bui. Dila? Entahlah, yang ku tahu dia bahkan sedang mengandung. Iya, anak
Papa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar